Earth Stood Still

Minggu, 07 Juni 20090 komentar

Film yang saya nilai cukup bagus untuk kita tonton dan saya sarankan jangan hanya menonton dan seteh itu melupakannya, tapi ada baiknya kita renungkan pesan dalam film ini (salut buat Sutradara dan krunya yang mempunyai ide pembuatan film ini)
Film yang menggambarkan tentang kerusakan di muka bumi yang telah begitu parah dan mengancam seluruh penghuninya termasuk manusia itu sendiri, namun para pemimpin yang dapat membuat keputusan untuk menyelamatkan bumi ini tidak mempunyai kepedulian sedikitpun, sehingga bumi yang tidak hanya milik manusia, tapi milik semua makhluk di alam ini terancam “hancur”.
Karena tidak adanya kepedulian dari para pemimpin kita ini, sampai-sampai makhluk Tuhan yang datang dari “dunia lain”, yang dalam kenyataannya tidak menikmati dari keindahan, kekayaan bumi ini turut merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan bumi ini (ini merupakan suatu bentuk keputusasaan dari sebagian kita, kepada siapa kita bisa meletakkan tanggung jawab memperbaiki bumi ini, atau paling tidak memperlambat kerusakan ini. Hal ini wajar karena dalam kenyataannya memang tak ada seorangpun pemimpin yang dilahirkan di dunia pada saat ini yang peduli dengan lingkungan).
Melihat kenyataan sekarang, tuhan sebenarnya telah mengirim sinyal, karena manusia tidak mau mengurangi emisi karbon (gelas kaca) dengan berbagai cara, dan pertemuan demi pertemuan telah dilakukan, namun para pemimpin negara maju tetap tidak mau melaksanakan kesepakatan dan tidak peduli. Tuhan punya caranya sendiri, yaitu dengan menimbulkan krisis keuangan yang dimulai pada pertengahan tahun 2008. Sehingga dengan krisis, produksi menurun, pemanfaatan energipun otomatis menurun, sehingga emisi karbonpun menurun. (contoh produksi mobil turun, penjualan anjlok. Berarti pelambatan kerusakan bumi telah terjadi). Inilah sinyal yang harus kita tangkap dari keadaan krisis global saat ini (paling tidak dari segi positifnya).
Kembali kepada kerusakan yang telah dibuat manusia di Indonesia, lumpur lapindo. Suatu keadaan yang diputuskan secara hukum merupakan kerusakan diakibatkan oleh alam, yang merupakan keputusan pemimpin kita (pada hal Tuhan telah mengatakan, kerusakan dimuka bumi adalah ulah dari tangan-tangan manusia) apakah kita meragukan ayat-ayat Tuhan, dan lebih percaya pada manusia? Dalam kasus ini manusia (pemimpin Indonesia) telah mengambing hitamkan Tuhan (alam) dalam kasus lumpur lapindo ini. Kasus lainnya telah terlihat pada tempat-tempat lain, yang telah berakibat negative pada manuasia itu sendiri (tentu yang lebih menderita adalah makhluk tuhan berupa hewan dan tumbuhan) seperti kerusakan hutan di Sumatera, Kalimantan dll (masihkah menyalahkan Tuhan dalam kasus ini?) yang bisa melakukan perbaikan dalam kerusakan ini hanyalah pemimpin, karena kerusakan yang terjadi menyangkut kebijakan yang salah dari awalnya. Melihat kasus di Sumatera dan Kalimantan, mari kita berkaca pada Australia(mungkin banyak kita yang tak tahu, karena Australia pintar menyembunyikannya dari public dunia).
Kasus di Australia terjadi di Daerah Lembah Sungai Murray-Darling. Sekilas saya akan menggambarkan bagaimana keadaan daerah yang dulu subur, penghasil beras, buah-buahan, kapas dan areal peternakan. Kerusakan dimulai dengan eksploitasi bumi secara berlebihan dan tanpa pertimbangan yang matang, dan bermotif azas manfaat yang sekejab. Yaitu dengan menebangi hutan dengan miliaran batang kayu untuk selanjutnya dijadikan bendungan. Padahal menurut para ahli, hutan (gugusan pepohonan) dapat menarik awan untuk selanjutnya terjadi hujan (sebagai magnet). Sekarang bendungan Home telah menyusut, dan akibatnya lahan pertanian hilang, perternakan habis. Sedangkan pepohonan yang dahulu ditebang tak tumbuh kembali. Sekarang harus berhadapan dengan kekeringan dan penjatahan air bersih. Di saat krisis air muncul, yang dahulu dikenal dengan “keangkuhan Australia” kini berubah menjadi “tahapan duka” begitu istilah dari psikiater Swiss Elisabeth Kubler-Ross. Istilah ini mencakup pengingkaran, kemarahan, tawar-menawar, depresi dan penerimaan. Dalam kondisi yang menjadi pelajaran bagi Negara maju lainnya itu. Australia adalah Negara dengan perekonomian nomor 15 dunia. Sedang belajar tentang batas-batas sumber daya alam di era perubahan iklim. Berita baiknya adalah Australia mungkin akan menjadi pihak yang memberikan pelajaran tersebut kepada Negara-negara industry lainnya.
Sementara itu daerah yang saya kagumi keindahanya dan mungkin salah satu hutan lindung di sekitar danau yang masih lestari di Indonesia yaitu Hutan Lindung Maninjau. Sekarang dalam bahaya, dan menapak pada kehancuran. Masalahnya adalah sebagaimana kerusakan di hutan lindung lainnya adalah pembukaan jalan. Jalan yang dibuka adalah jalan propinsi, dengan maksud meningkatkan aksesibilitas, namun mengorbankan lingkungan yang sangat lestari tersebut. Belum lagi jalan selesai dan masuk tahap selanjutnya, longsor telah terjadi (pemandangan puncak lawang yang dilihat dari danau sebelumnya hijau sekarang dihiasi dengan bekas longsoran, terbukanya tutupan tanah. Sungguh memilukan bagi saya, entahlah bagi pemimpin dan pengambil kebijakan kita.
Sudah dapat kita bayangkan apabila jalan tersebut nantinya selesai, akan muncul penebangan liar, pemukiman liar. Yang berbuntut pada kerusakan alam ini. Padahal hutan lindung maninjau menjadi habitat harimau, dan habitat hewan dan tumbuhan langka dan unik lainnya. Saya, mungkin kita akan merasa kehilangan dengan ini, kita hanya dapat berharap pemerintah memikirkan kembali demi masa depan yang jauh lebih baik dan bermanfaat, dari pada manfaat sesaat. Sebelum Tuhan turun tangan menyelamatkan bumi milik-Nya ini, mari kita jaga dan manfaatkan otak dan pikiran yang Tuhan berikan untuk berfikir jauh kedepan dan demi kepentingan bersama, tidak saja manuasia tapi juga hewan dan tumbuhan.
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. AYAH ADIST - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger